"ya sudah mungkin anaknya yg punya warung lagi pulang terus nyetel musik klasik d lantai atas.."
berhubung bensin motor uda mau abis dan ga bakal nyampe di pom bensin,
kami menepi k warung bensin eceran di pojokan perempatan.. ternyata si
bapak penunggu warung yg sedang memainkan piano..
si bapak tidak menghiraukan kami.. dengan sandal jepit, celana pendek lusuh, kaos oblong kucel, dan rambut berantakan, si bapak tetap asyik memainkan lagunya.. tangannya luwes kayak pianis di film2, matanya terpejam tanda ia menikmati alunan musiknya.. kami hanya diam dan terpesona (eaaaa) dengan si bapak.. selesai 1 lagu si bapak menutup pianonya, mengelapnya, kemudian ditutup lagi dengan taplak meja.. barulah dia melayani pelanggan2nya yg antri beli bensin..
saya tidak pernah menyangka kalau ternyata 'meja' yg selama ini saya lihat untuk mendudukkan bayi, menaruh makanan kecil, dll adalah sebuah piano yang kinclooong.. *0*
dan si bapak berhasil membuat piano itu berguna.. ya, dengan memainkannya..
tidak jauh dari tempat bapak piano, kira2 500 m, ada sebuah tempat tambal ban (dan bengkel sepeda kecil2an).. salah seorang pegawainya adalah kakek berusia 70an tahun.. penampilannya sederhana.. sandal jepit, celana pendek dan kemeja lusuh yang banyak noda oli..
hey, tunggu dulu.. di atas meja di samping si mbah bekerja selalu ada sebuah biola.. biola kesayangan Mbah Mingan..
saat istirahat si mbah akan memainkan biolanya.. lagu2 yg dimainkan keroncong atau lagu2 perjuangan..
di saat libur tambal ban, mbah bersama teman2nya mengamen dari satu bis ke bis yang lain.. uang bukan yg utama, mbah senang bermain biola..
singkat cerita mbah bersedia mengajari adik saya biola.. selepas bekerja d bengkel, mbah datang k rumah kami.. bahkan adik saya dipinjami biola olehnya.. mbah tidak mematok harga, malahan bersikeras tidak mau dibayar.. kata mbah beliau sudah senang jika ada yg mau dan bisa belajar biola.. asal mau, mbah bersedia mengajari..
padahal kalau kita berpikir si mbah yg sudah sepuh bekerja dari pagi sampai sore, lalu harus k rumah kami untuk mengajari biola, pulang setelah maghrib, adalah hal yg melelahkan untuk seusia mbah.. tapi mbah tetap tidak mau dibayar.. :')
mbah mengajari adik saya sampai cukup mahir bermain biola.. (saya coba belajar biola.. tapi sepertinya saya ga bakat.. hehee.. )
bapak piano dan mbah biola.. 2 sosok yg jarang saya temui di kehidupan nyata..
jangan nilai orang dari tampilannya..
apapun pekerjaan kita nanti, tetap lakukan hal yg kita sukai.. asal tidak merugikan orang lain, syukur2 kalau memberi manfaat..
diposting tanggal 5 September 2014 di wall fb saya
si bapak tidak menghiraukan kami.. dengan sandal jepit, celana pendek lusuh, kaos oblong kucel, dan rambut berantakan, si bapak tetap asyik memainkan lagunya.. tangannya luwes kayak pianis di film2, matanya terpejam tanda ia menikmati alunan musiknya.. kami hanya diam dan terpesona (eaaaa) dengan si bapak.. selesai 1 lagu si bapak menutup pianonya, mengelapnya, kemudian ditutup lagi dengan taplak meja.. barulah dia melayani pelanggan2nya yg antri beli bensin..
saya tidak pernah menyangka kalau ternyata 'meja' yg selama ini saya lihat untuk mendudukkan bayi, menaruh makanan kecil, dll adalah sebuah piano yang kinclooong.. *0*
dan si bapak berhasil membuat piano itu berguna.. ya, dengan memainkannya..
tidak jauh dari tempat bapak piano, kira2 500 m, ada sebuah tempat tambal ban (dan bengkel sepeda kecil2an).. salah seorang pegawainya adalah kakek berusia 70an tahun.. penampilannya sederhana.. sandal jepit, celana pendek dan kemeja lusuh yang banyak noda oli..
hey, tunggu dulu.. di atas meja di samping si mbah bekerja selalu ada sebuah biola.. biola kesayangan Mbah Mingan..
saat istirahat si mbah akan memainkan biolanya.. lagu2 yg dimainkan keroncong atau lagu2 perjuangan..
di saat libur tambal ban, mbah bersama teman2nya mengamen dari satu bis ke bis yang lain.. uang bukan yg utama, mbah senang bermain biola..
singkat cerita mbah bersedia mengajari adik saya biola.. selepas bekerja d bengkel, mbah datang k rumah kami.. bahkan adik saya dipinjami biola olehnya.. mbah tidak mematok harga, malahan bersikeras tidak mau dibayar.. kata mbah beliau sudah senang jika ada yg mau dan bisa belajar biola.. asal mau, mbah bersedia mengajari..
padahal kalau kita berpikir si mbah yg sudah sepuh bekerja dari pagi sampai sore, lalu harus k rumah kami untuk mengajari biola, pulang setelah maghrib, adalah hal yg melelahkan untuk seusia mbah.. tapi mbah tetap tidak mau dibayar.. :')
mbah mengajari adik saya sampai cukup mahir bermain biola.. (saya coba belajar biola.. tapi sepertinya saya ga bakat.. hehee.. )
bapak piano dan mbah biola.. 2 sosok yg jarang saya temui di kehidupan nyata..
jangan nilai orang dari tampilannya..
apapun pekerjaan kita nanti, tetap lakukan hal yg kita sukai.. asal tidak merugikan orang lain, syukur2 kalau memberi manfaat..
diposting tanggal 5 September 2014 di wall fb saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar